Nama : Asri Safirannisa
Kelas : 1IA02
NPM : 51413445
Jurusan : Teknik Informatika
Universitas Gunadarma
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT,
karena atas rahmat dan karuniaNya yang diberikan kepada penyusun, penyusun
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam makalah ini penyusun akan
membahas topik mengenai Manusia sebagai Makhluk Sosial.
Makalah ini merupakan panduan bagi mahasiswa dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, makalah ini juga sebagai salah
satu tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial Dasar serta dirancang sedemikian rupa
sehingga dapat menumbuhkan proses belajar mandiri, agar aktivitas dan
penguasaan materi dapat optimal sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua mahasiswa. Kritik dan saran tetap kami harapkan guna untuk
perbaikan dan penyempurnaan makalah.
Depok, November
2013
Penyusun
DAFTAR ISI
SAMPUL JUDUL...................................................................................i
KATA
PENGANTAR............................................................................ii
DAFTAR
ISI..........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................I
BAB II PEMBAHASAN........................................................................II
A. KEDUDUKAN SEBAGAI MAKHLUK
SOSIAL............................III
B. PENGERTIAN DAN DEFINISI MAKHLUK
SOSIAL...................IV
C. ASAL USUL AKAL
BUDI................................................................V
D. SENI
BAHASA..................................................................................VI
E. KANDUNGAN SURAH AN
NAAS.................................................VII
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN....................................................................................IX
B. DAFTAR
PUSTAKA...........................................................................X
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia selain sebagai
makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia
memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan
berinteraksi dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk
kelompok. Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut juga dengan
zoon politicon.
Istilah manusia sebagi zoon
politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles. Manusia sebagai insan
politik atau dalam istilah yang lebih populer manusia sebagai zoon politicon,
mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok
dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan
memiliki tujuan yang jelas,seperti negara. Sebagai insan politik,manusia
memiliki nilai-nilai yangbisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Sifat
berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan kemampuan untuk
berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerja sama.
Selain itu juga adanya kepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam
kelompok,antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas, nilai kebersamaan dan
nilai berorganisasi.
Nilai adalah prinsip-prinsip dasar yang dianggap
paling baik,paling bermakna, paling berguna, paling menguntungkan, dan paling dapat
mendatangkan kebiasaan bagi manusia. Nilai kesatuan mengandung makna bahwa
komunitas politik merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki tekad untuk
bersatu dan komunitas politik hanya terwujud apabila ada persatuan. Nilai solidaritas
mengandung makna bahwa hubungan antar manusia dalam komunitas politik bersifat
salingmendukung dan selalu membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan manusia
yang lain. Nilai kebersamaan mengandung arti komunitas politik merupakan wadah
bagi mereka untuk mewujudkan tujuan hidup yang diidam-idamkan. Nilai organisasi
mengandung makna bahwa komunitas politik yang dibangun manusia, mengatur
dirinya dalam bentuk pengorganisasi.
Aktualisasi manusia sebagai
makluk sosial, tercermin dalam kehidupan berkelompok. Manusia selalu
berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok dalam kehidupan manusia adalah suatu
kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan manusia berkelompok adalah untuk
meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Apapun bentuk kelompoknya,
disadari atau tidak, manusia berkelompok mempunyai tujuan meningkatkan
kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok manusia bisa memenuhi berbagai macam
kebutuhan hidupnya, bahkan bisa dikatakan kebahagiaan dan keberdayaan hidup
manusia hanya bisa dipenuhi dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok, tujuan
hidup manusia yaitu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa
tercapai.
BAB II
PEMBAHASAN
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu satu dengan individu
lainnya. Individusatu dapat mempengaruhi yang lain dan begitu juga sebaliknya. Pada
kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya
melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena
ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki
juga perilaku spesifik.
Jadi sudah kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat,
selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang dapat dikembangkan.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya
dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu
bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial,
juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan
(interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai
manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia
lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang
lain, manusia bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh
potensi kemanusiaannya.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia
tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia
mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap
manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan
manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai
makhluk sosial.
Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum,
mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar.
Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organissai harus saling
membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan
manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial
merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling
membutuhkan.
Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa
tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud
sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non
formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara)
dengan wibawanya wajib mengayomi individu.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai
perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat
tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih
saying, pengakuan harga diri, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan
emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan
berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat
menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang
khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, “manusia hanya dapat
menjadi manusia karena pendidikan”. Jadi jika manusia tidak dididik maka ia
tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal tersebut memberi
penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi
seseorang.
PENGERTIAN DAN DEFINISI MAKHLUK SOSIAL
Berikut
ini adalah pengertian dan definisi makhluk sosial menurut para ahli:
v Dr. JOHANNES GARANG
Makhluk
sosial adalah makhluk berkelompok dan tidak mampu hidup menyendiri.
v NANA SUPRIATNA
Makhluk
sosial adalah makhluk yang memiliki kecenderungan menyukai dan membutuhkan
kehadiran sesamanya sebagai kebutuhan dasar yang disebut kebutuhan sosial
(social needs).
v ARISTOTELES
Makhluk
sosial merupakan zoon politicon, yang berarti menusia dikodratkan untuk hidup
bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain.
v MOMON SUDARMA
Makhluk
sosial merupakan makhluk yang dalam kesehariannya sangat membutuhkan peran
makhluk yang lainnya.
v MUHAMMAD ZUHRI
Makhluk
sosial adalah makhluk yang tidak akan sanggup hidup sedniri, selalu bergantung
pada orang lain dan apa yang dibutuhkannya dalam hidup juga dibutuhkan pula
oleh orang lain
v DELIARNOV
Makhluk
sosial adalah makhluk yang mustahil dapat hidup sendiri serta membutuhkan
sesamanya dalam melakukan aktivitas sehari0hari
v LITURGIS
Makhluk
sosial merupakan makhluk yang saling berhubungan satu sama lain serta tidak
dapat melepaskan diri dari hidup bersama.
ASAL USUL AKAL BUDI
Akal
budi adalah sumber rasa diri (self
)—suatu rasa yang terkadang bersifat pribadi, dan terkadang dibagi dengan orang
lain. Akal budi juga suatu saluran untuk menjangkau dunia di luar benda benda
materi sehari hari, melalui imajinasi; akal budi menjadi sarana bagi kita untuk
mengubah dunia abstrak menjadi kenyataan puspa-ragam.
Kita
boleh bangga dengan kesadaran introspektif kita, tetapi kita hanya bisa sadar
akan apa yang dipantau oleh otak dengan erlengkapan yang khusus untuk itu.
Jerrison berargumen, walaupun dianggap oleh banyak orang sebgai salah satu alat
komunikasi, bahasa juga berfungsi lebih jauh untuk mempertajam realitas mental
kita.
Ada
banyak literatur, di bidang filsafat dan psikologi, yang membhas masalah apakah
pikiran tergantung pada bahasa atau bahasa tergantung pada pikiran. Tak pelak
lagi ada banyak, barangkali sebagian terbesar, proses kognitif manusia
berlangsung tanpa bahasa atau bahkan tanpa kesadaran. Bahasa membentuk unsur
unsur pikiran dengan cara yang tidak bisa dialkukan dengan akal budi yang tanpa
bahasa, sehingga argumen Jerrison bisa dibenarkan.
SENI BAHASA
Tak
diragukan lagi, evolusi bahasa lisan sebagaimana kita ketahui, merupakan suatu
titik yang menentukan dalam pra sejarah manusia. Berbekal bahasa, manusia dapat
menciptakan berbagai dunia jenis baru di alam : dunia kesadaran yang mawas diri
dan dunia yang kita ciptakan serta nikmati bersama orang lain, yang kita sebut “budaya”. Dalam
buku yang terbit pada tahun 1990, Language and species, Derrick Bickerton ahli
linguistik dari University of Hawaii merumuskan hal itu dengan meyakinkan: “
Hanya bahasa yang bisa menerobos sekat sekat yang memenjarakan pengalaman
langsung di mana semua makhluk lain terkurung, yang melepaskan kita ke dalam
kebebesan ruang dan waktu yang tak terhingga.”
Sebagaian
besar pengetahuan kita tentang bahasa
baru muncul dalam tiga dasawarsa terakhir. Yang pertama melihat bahasa sebagai ciri unik manusia, kemampuan yang
timbul sebagai akibat sampingan otak kita yang makin membesar.
Bahasa
timbul dalam prasejarah manusia — dengan berbagai saran dan sepanjang sebagian
urutan waktu dan dengan denmikian mengubah kita baik sebgai individu individu
maupun spesies. Dari semua kemampuan mental kita, bahasa terletak paling dalam
di bawah ambang kesadaran kita, bagian yang paling tidak terjangkau oleh akal
budi.
Sebagai
suatu spesies, bahasa mengubah cara kita bergaul satu sama lain melalui
penjabaran kebudayaan. Bahasa dan budaya menyatukan sekaligus memisahkan kita,
kemampuan yang sama sama kita punya, tetapi lima ribu kebudayaan yang
diciptakan bahasa terpisah satu sama lain. Sebegitu menyeluruh kita sebagai
produk kebudayaan yang kita membentuk kita sehingga sering gagal mengetahui
budaya itu merupakan ciptaa kita sendiri, sampai kita berhadapan dengan
kebudayaan yang sangat berbeda.
Dalam
pandangan pengikut Chomsky, kita tidak perlu berpaling pada seleksi alam untuk
mengetahui asal usul bahasa karena bahasa adalah suatu peristiwa kebetulan
dalam sejarah, kecakapan yang muncul begitu ambang batas kognitif terlampaui.
Agaknya kemampuan berbahasa tidak muncul sekaligus, sehingga kita terpaksa
bertanya tanya keunggulan apakah yang diberikan bahasa yang belum berkembang
kepada leluhur kita. Jawaban yang mencolok adalah bahwa bahsa semacam itu
memberi cara berkomunikasi yang efisien. Kemampuan ini tentunya akan bermanfaat
bagi leluhur kita ketika mereka mulai menjalani hidup berburu dan berkumpul
masih awal, yang merupakan cara subsisten yang lebih menantang dibandingkan
yang dilakukan oleh kera. Ketika cara hidup leluhur kita semakin pelik,
komunikasi yang efektif kiranya semakin lama akan semakin berharga dalam
keadaan seperti itu. Itulah sebabnya seleksi alam terus menerus meningkatkan
kecakapan berbahasa.
Ralph
Holloway, neurolog dari Columbia University, perintis terkemuka pada tahun
1960-an berpendapat, “saya cenderung berpendapat bahwa bahasa tumbuh dari pola
pengertian perilaku sosial, yang pada dasarnya bersifat kooperatif daripada
agresif, dan funginya bertumpu pada pembagian kerja menurut tabiat jenis
kelamin yang tersususun saling melengkapi secara sosial.”
KANDUNGAN DALAM SURAH AN NAAS
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ
وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ. قَالُوا: وَأنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ
إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا
بِخَيْرٍ
عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ
حُيَيٍّ. فَقَالَا: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ, وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ
يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا -أَوْ قَالَ شَرًّا-
لَا تَقُلْ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ, فَإِنَّكَ
إِذَا قُلْتَ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقالَ: بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ.
وَإذَا قُلْتَ: بِسْمِ اللَّهِ, تَصَاغَرَ حَتَّى يَصِيْرَ مِثْلَ الذُّبَابِ
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah sejak lahir, manusia sudah diciptakan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Walaupun sekaya dan setinggi apapun jabatannya, manusia tetap membutuhkan orang lain. Janganlah kita menjadi manusia yang angkuh dan anti sosial, siapa yang mau membantu kita kalau tidak orang lain. Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohaniah.
DAFTAR PUSTAKA
- www.google.com/kandungan surah
an naas
- www.google.com/manusiasebagaimakhluksosial
- www.google.com/asalusulakalbudi
- Leakey Richard, 2003. asal-usul manusia. Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia